Tuesday, July 28, 2009

Menyekolahkan Anak dengan Telur Bebek

Di depan rumah, bebek-bebek di kandang menyanyikan lagu rampak. Tiap pagi, beberapa ekor mempersembahkan telur-telur pada tuannya, Muntaha. Lelaki berumur 35 tahun itu memang hobi beternak bebek sejak kecil. ”Makanya, saya tertarik bergabung menjadi mitra ngembangin bebek,” tutur ayah 3 anak itu.

Ia di tahun 2004 bergabung menjadi mitra. Awalnya dimodali 100 ekor bebek usia bebaya. Dua bulan kemudian sudah menampakkan hasil, bertelur. Pada perkembangannya, bebeknya berkurang menjadi 84 ekor, karena mati kena penyakit. ”Alhamdulillah, saya bisa sekolahkan anak. Penghasilan pokok ya dari bebek ini,” ungkapnya sembari mengangkat seekor bebek, untuk dipotret.

Jpreet! Pria itu tersenyum pada bebeknya. Setelah dipotret, ia kembali menaruh bebek di kandang, dan terus bercerita. Setiap tiga hari sekali, ia menjual telur-telur mentah ke tengkulak. Untuk pakan bebek, ia harus menyediakan sebanyak 25 kg dedak untuk sehari, pagi dan sore. Seperti peternak lain, bila musim panen padi tiba, ia bisa berhemat. Bahkan, bebek bertelur lebih cepat dari pada dikurung di kandang. Kalau dikurung, sebulan, Muntaha harus membeli makanan itik bermerek, dedak, ikan petek, atau ikan tembang. Kalau dikurung, penghasilan sebulan dapat mencapai Rp 500 ribu, tapi belum bersih. Sebalinya, kalau dikepar atau diumbar di sawah saat panen padi, Muntaha bisa mengantongi Rp 500 ribu bersih. Karenanya, musim panen padi adalah berkah baginya.

Panen padi di desanya bisa dua kali dalam setahun. Pengaruh ke bebek juga bagus, jadi gemuk. Datangnya musim panen tidak bertahan terus-menerus, membuatnya harus kreatif mencarikan pakan. Caranya dengan menggiring bebek ke rawa. Kalau lagi musim, banyak keong mas yang bisa menjadi santapan bebek. Hanya tubuh bebek lebih kurus dibanding dengan makan gabah di sawah.

Rata-rata, dalam seminggu, Muntaha bisa dua kali menjual telur masing-masing 150 telur sekali jual. Perolehannya Rp 75 ribu sampai Rp 200 ribu seminggunya. Hanya saja, kendala yang paling banyak ditemui peternak itik seperti Muntaha adalah soal pakan. Jika persediaan modal membeli empan (pakan) mepet, berpengaruh juga pada keuangan keluarga.

”Saya bayangkan kalau tiga anak sekolah semua, tentu repot...,” ucap Muntaha setengah menekuri ekonominya. Namun, ia bersyukur dengan kondisi sekarang, ternyata ia bisa menyekolahkan anak sulungnya di SD. Dari penjualan telur, ia juga bisa menghidupi keluarga, selain memberi uang jajan anaknya yang sekolah.

Ia hanya mengandalkan telur? Ternyata tidak. Ia juga seorang petani penggarap sawah. Ia meminta seorang warga pemilik sepetak sawah lalu ia garap, hasilnya di-paro. Memang, hasilnya tak seberapa yang diperoleh Muntaha dari menggarap sawah. Ia telah memiliki pengalaman sebagai buruh tani, sebelum mengembangkan bebek.

Pria itu tersenyum melihat anak laki-laki nomor duanya sedang main-main tanah. ”Anak saya itu belum berani sekolah,” ucapnya dengan wajah yang menyiratkan keinginan kuat agar anak-anaknya tetap bersekolah.

Bebek-bebek di kandang ber-kwek-kwek, seolah turut memberi semangat tuannya.

Ditulis oleh Hery D. Kurniawan - Masyarakatmandiri.org

Pemberdayaan Perempuan di Bantul Melalui Bebek

By Republika Newsroom

BANTUL -- Nita Puryanti (29) warga Desa Bangi, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul kini memiliki kesibukan lain selain mengurusi anak semata wayangnya. Bahkan kegiatannya memelihara bebek bersama ibu-ibu lain di desanya justru menambah penghasilan keluarga.

Kini ibu muda ini bisa tersenyum puas manakala setiap akhir bulan menerima hasil dari jerih payahnya memelihara bebek di kampungnya itu. Bukan hanya Nita, Novi (20) seorang mahasiswi sebuah Akademi Perawat di Bantulpun juga ikut menikmati hasil dari usaha memelihara bebek di kampungnya itu.

Wanita bertubuh subur ini bisa memperoleh uang saku tambahan untuk biaya kuliahnya. ''Lumayan dan cukup membanggakan bisa membayar biaya kuliah sendiri tidak tergantung orang tua dari usaha ini,'' papar Novi.

Adalah kelompok tani perempuan Bangi Mandiri yang memiliki usaha beternak bebek di Desa Bangi, Sewon, Bantul tersebut. Sedikitnya ada 45 perempuan dari 45 keluarga di desa itu yang tergabung dalam kelompok tani tersebut. Tidak main-main, kelompok tani yang anggotanya perempuan semua itupun saat ini memelihara sedikitnta 2.640 bebek yang terdiri atas 90 persen bebek betina dan 10 persen jantan.

Masing-masing perempuan di kelompok tani tersebut memiliki 105 bebek peliharaan dimana lima diantaranya merupakan pejantan. ''Dari 100 bebek betina itu setiap hari saya bisa panen telur sekitar 60 hingga 70 telur,'' papar Nita.

Dengan hasil tersebut, setiap hari Nita dan Novi menyetor telur-telur miliknya itu ke koperasi kelompok tani mereka. ''Setelah dihitung termasuk juga untuk sewa lahan, beli pakan dan cicilan modal setiap bulan saya memperoleh pendapatan sekitar Rp 250 hingga Rp 500 ribu. Tapi ini baru berjalan dua bulan sehingga kamipun maish belajar. Jika sudah agak mahir dan bebek-bebek juga tidak stress penghasilan kami paling terus bertambah,'' tandasnya.

Bersama kelompok tani itupun, baik Nita maupun Novi masing-masing memperoleh bantuan dua kandang bebek. Dimana setiap kandang diisi sedikitnya 53 ekor bebek. Anggota kelompok tani lainnya juga menikmati bantuan yang sama.

Menempati areal sawah seluas 2.000 hektar kelompok tani perempuan Bangi Mendiri itupun memperoleh dana bantuan dari Telkomsel melalui program coorporate social responsibility (CSR) sebesar Rp 450 juta. Dana bantuan itupun digunakan untuk pembangunan 48 kandang bebek dan pemberian bibit bebek sebanyak 2.640 ekor.

''Untuk mendukung kelancaran proses usaha sendiri kita juga melengkapi areal peternakan bebek ini dengan mesin penepung pakan, gudang telur, rumah penetasan berikut empat mesin penetas, enam kandang meri (anak bebek), enam kandang pembesaran indukan, ruang pembuatan telur asin serta infrastruktur klaster,'' kata Direktur Keuangan Telkomsel Triwahyusari saat penyerahan bantuan tersebut pada kelompok tani tersebut di Bangi, Bantul, Kamis kemarin.

Penyerahan bantuan itupun disaksikan Wakil Bupati Bantul, Sumarno dan beberapa pejabat Bantul lainnya. Penyerahan bantuan tersebut juga menandai di resmikannya Kampung bebek sebagai icon pemberdayaan perempuan di Desa Bangi, Sewon, Bantul melalui peternakan bebek tersebut.

Diakui Triwahyuni, kelompok tani yang diberikan bantuan program tersebut merupakan kelompok tani perempuan yang beranggotakan perempuan usai produktif antara 17 hingga 40 tahun. Melalui langkah itu, diharapkan pendapatan keluarga perempuan di desa tersebut bertambah dan berimbas pada peningkatan kesejahteraan keluarga mereka sendiri.

Menurutnya, bantuan itu sifatnya bergulir sehingga diharapkan bantuan tersebut bisa dikembangkan untuk peningkatan atau pemberdayaan kelompok tani di desa lainnya di Bantul.

Melalui program itupun kini Nita dan beberapa ibu-ibu muda Desa Bangi tidak hanya mengasuh anak dan mengurus rumah tangga saja. Mereka memiliki aktivitas lain untuk menambah pendapatan keluarga. melalui kelompok tani itupun, ibu-ibu yang tiga tahun lalu menjadi korban gempa itupun juga belajar berorganisasi dan belajar mandiri.yli/kpo

Friday, July 17, 2009

Beternak Itik Petelur, Keunggulan Itik Mojosari

Source: http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90509&idrb=40502

Pemeliharaan itik petelur membutuhkan bahan baku bibit, pakan dan obat-obatan. Pemilihan bibit harus dipertimbangkan secara baik, karena bibit ini merupakan keputusan awal yang akan berpengaruh pada tahap-tahap pemeliharaan berikutnya. Beberapa jenis bibit unggul itik petelur yang dijumpai di pasar adalah sebagai berikut:

Itik Tegal
Itik Mojosari
Itik Alabio
Itik Bali
Itik BPT KA

Bibit unggul tersebut memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghasilkan telur baik jumlah telur yang dihasilkan per tahun maupun rata-rata berat telur dapat dilihat dalam Tabel 4.1. Tampak bahwa jenis itik Mojosari menghasilkan jumlah telur per tahun tertinggi (200-265 butir), dengan bobot per butirnya juga tinggi (70 gr). Urutan berikutnya adalah jenis itik Tegal yang menghasilkan jumlah telur per tahun 150-250 butir dengan bobot per butir antara 65 – 70 gr

Kemampuan Produksi Telur dan Bobot Beberapa Jenis Itik Petelur Unggas:

Itik Mojosari
200-265 butir per tahun / 70gr per butir

Itik Tegal
150-250 butir per tahun / 65-70gr per butir

Itik Alabio
130-250 butir per tahun / 65-70gr per butir

Itik Bali
153-250 butir / 60-65gr per butir

Sumber: Suharno dan Amri (2000 diolah)


Selanjutnya sarana produksi lainnya yang dibutuhkan yaitu pakan dan obat-obatan. Jenis pakan adalah: starter (untuk anak itik), grower (untuk itik dara) dan layer (untuk itik dewasa). Ketiga jenis pakan ini dapat dengan mudah dibeli di toko. Pakan ini dapat dibuat sendiri dengan alternatif bahan-bahan yang paling murah dan mudah diperoleh di sekitar lokasi usaha. Adapun bahan alternatif pakan ternak itik adalah jagung kuning, dedak/bekatul, tepung ikan, tepung daging bekicot, tepung tulang, tepung kerang, bungkil kelapa, tepung gaplek, tepung daun pepaya, tepung daun turi, dan tepung daun lamtoro. Komposisi bahan-bahan tersebut tergantung pada jenis pakan yang akan dibuat.

Obat-obatan dibutuhkan karena untuk mendapatkan produksi yang baik dan bermutu tinggi, salah satunya adalah ternak harus sehat. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban peternak untuk menjaga agar itik petelur terhindar dari segala macam serangan penyakit. Cara terbaik untuk menghindar dari serangan penyakit adalah dengan memelihara itik dalam kandang yang memadai, baik sanitasi maupun luasannya, selain pakan yang mencukupi jumlah, nilai gizi, dan kesegarannya. Berdasarkan pengalaman, vaksinasi yang perlu diberikan pada itik adalah vaksinasi untuk mencegah penyakit fowl cholera atau duck cholera. Sedangkan penyakit yang dapat menyerang unggas (umumnya) adalah virus, bakteri, dan parasit (cacing, protozoa, dan kutu). Beberapa penyakit itik terpenting adalah: coccidiosis, coryza, infeksi salmonella, lumpuh, dan kolera.